Sebanyak 180 jamaah umrah Paket Bulan Maulid 1448 H mengikuti Praktik Manasik Umrah Kedua yang diselenggarakan KBIHU Miftahul Ulum pada Ahad, 16 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung di Aula Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul.
Praktik manasik kedua ini menjadi bagian penting dari rangkaian pembekalan jamaah menjelang keberangkatan ke Tanah Suci. Setelah sebelumnya mengikuti manasik pertama pada 2 Agustus 2026, para jamaah kembali mendapatkan pemantapan, khususnya melalui praktik langsung rangkaian ibadah umrah.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pembina Yayasan dan Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum, KH. M. Husni Zuhri dan KH. Mohamad Hasanudin Husni. Hadir pula para pembimbing, yakni Ust. H. Khotibin Abdullah, Ust. H. Shaleh Ardiansyah, dan Ust. H. Abd. Rohman, S.Ag., M.A., serta Ust. H. Turmudi dari unsur yayasan.
Baca Juga

Dari unsur KBIHU hadir Indra Wahyudi, sedangkan dari unsur muthawwif hadir H. Abd. Qodir yang turut memberikan pendampingan kepada para jamaah.
Dalam sambutannya, KH. M. Husni Zuhri mengajak seluruh jamaah menjadikan perjalanan umrah sebagai sebuah proses yang harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, keberhasilan perjalanan ibadah tidak hanya ditentukan ketika jamaah sudah berada di Tanah Suci, tetapi dimulai sejak proses persiapan.
“Jadikan kegiatan ini menjadi tiga: sukses perencanaan, sukses pelaksanaan, dan sukses tujuan,” pesan KH. M. Husni Zuhri.
Ia menjelaskan bahwa sukses perencanaan berarti jamaah mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, mulai dari ilmu, kesehatan, administrasi, perlengkapan, hingga kesiapan mental dan spiritual.
Sukses pelaksanaan berarti jamaah mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan tertib, mengikuti tuntunan pembimbing, menjaga kekompakan, serta mengedepankan kesabaran selama berada di Tanah Suci.
Sedangkan sukses tujuan adalah ketika perjalanan tersebut benar-benar memberikan perubahan dalam kehidupan jamaah. Umrah tidak berhenti pada selesainya rangkaian ritual, tetapi membawa pulang nilai-nilai spiritual untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kesempatan tersebut, KH. M. Husni Zuhri juga mengingatkan bahwa perjalanan umrah memiliki tujuan yang mendalam. Setidaknya ada tiga tujuan utama yang perlu ditanamkan oleh setiap jamaah.
Pertama, niat sowan dan berziarah kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Ziarah ke Madinah hendaknya dilakukan dengan penuh cinta, adab, dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.
Kedua, menapaki napak tilas sejarah Rasulullah ﷺ. Tanah Suci bukan sekadar tempat untuk melaksanakan ritual ibadah, tetapi juga ruang untuk mengenang perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam membangun peradaban Islam.
Ketiga, beribadah untuk menebus dosa, dengan memperbanyak taubat, istighfar, doa, dan amal kebajikan. Umrah diharapkan menjadi momentum untuk membersihkan hati dan memperbaiki kualitas kehidupan setelah kembali ke Tanah Air.
Usai pembukaan dan pengarahan, kegiatan dilanjutkan dengan praktik thawaf dan sa’i di halaman aula pesantren. Panitia menyiapkan alat peraga berupa miniatur Ka’bah sebagai media pembelajaran agar jamaah dapat memahami dan mempraktikkan rangkaian ibadah secara langsung.
Para jamaah juga mengenakan pakaian ihram, sehingga suasana praktik dibuat sedekat mungkin dengan kondisi pelaksanaan ibadah umrah di Tanah Suci.

Dalam praktik tersebut, jamaah mendapatkan bimbingan mengenai tata cara thawaf, posisi dan arah pergerakan, doa serta adab selama thawaf, kemudian dilanjutkan dengan praktik sa’i antara Shafa dan Marwah.
Praktik secara langsung ini diharapkan dapat membuat jamaah tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga memiliki pengalaman dalam menjalankan setiap tahapan ibadah sebelum berangkat.
Kegiatan manasik kedua ini menjadi bagian dari ikhtiar KBIHU Miftahul Ulum untuk mematangkan kesiapan 180 jamaah umrah Paket Bulan Maulid 1448 H. Dengan bekal ilmu, kesiapan fisik, kekompakan, dan niat yang lurus, para jamaah diharapkan mampu menjalankan perjalanan menuju Baitullah dengan penuh ketenangan dan kekhusyukan.
Semoga perjalanan ini menjadi perjalanan yang sukses sejak perencanaan, sukses dalam pelaksanaan, dan sukses mencapai tujuan—menjadi pribadi yang semakin dekat kepada Allah SWT dan semakin mencintai Rasulullah ﷺ.

