Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Miftahul Ulum menggelar Bimbingan Manasik Haji bagi calon jamaah haji tahun 2025. Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad, 20 April 2025 bertempat di Aula Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Banyuputih Kidul.
Acara bimbingan manasik dibuka langsung oleh ketua KBIHU Miftahul Ulum, H. Ahmad Fauzi, S.Pd.I. Dalam sambutannya, pria kelahiran Sumenep ini menyampaikan pentingnya manasik sebagai bentuk persiapan mental, spiritual, dan teknis bagi para jamaah.
“Bimbingan seperti ini sangat penting agar jamaah tidak hanya siap secara administrasi dan fisik, tetapi juga memahami rukun dan kewajiban haji secara benar sesuai tuntunan syariat,” ungkap H. Ahmad Fauzi dalam sambutannya.
Karena itu, pihaknya berharap para calon jamaah dapat mengikuti kegiatan bimbingan manasik ini dengan baik sehingga dapat memahami apa yang disampaikan oleh para pemateri.
Sesi utama diisi oleh H. Sholeh Ardiansyah, selaku narasumber yang membawakan materi tentang Rukun dan Wajib Haji, serta Muharramat Ihram (larangan-larangan dalam ihram). Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan secara rinci setiap tahapan ibadah haji, mulai dari niat ihram hingga tahallul, serta hal-hal yang membatalkan atau mengurangi pahala haji.

“Rukun haji tidak boleh ditinggalkan, sedangkan wajib haji apabila ditinggalkan harus dibayar dam. Jamaah harus memahami ini agar ibadahnya sah dan sempurna,” jelas H. Sholeh Ardiansyah di hadapan para peserta.
Suasana bimbingan berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Para peserta tampak aktif bertanya dan mencatat poin-poin penting dalam materi yang disampaikan.
Sesi istimewa dalam bimbingan kali ini adalah pemaparan khusus dari H. Abdul Qodir, muthawwif asal Indonesia yang sudah muqim (bermukim) di kota Makkah selama bertahun-tahun. Beliau menyampaikan wawasan tentang budaya dan kebiasaan masyarakat Arab di Saudi Arabia agar jamaah tidak mengalami culture shock saat berada di sana.
Dalam paparannya, H. Abdul Qodir menjelaskan beberapa poin penting:
- Kedisiplinan waktu dan ketegasan petugas di Saudi sangat tinggi. Jamaah diminta taat aturan dan tidak berdebat dengan petugas.
- Bahasa tubuh dan gestur seperti menunjuk atau berbicara keras bisa disalahartikan sebagai sikap tidak sopan.
- Adat berpakaian juga harus diperhatikan—jamaah dianjurkan mengenakan pakaian yang rapi dan sopan di luar ihram, terutama saat di Madinah.
- Masyarakat Arab sangat menghargai orang yang tenang, tidak tergesa-gesa, dan tahu tata krama dalam antrian, berbicara, atau berbelanja.
- Jangan sembarang memotret orang lokal tanpa izin, terutama perempuan, karena bisa dianggap pelanggaran adat.
“Kalau jamaah bisa beradaptasi dengan budaya Arab, insyaAllah akan merasa lebih nyaman selama tinggal di Tanah Suci,” ujar H. Abdul Qodir.
Bimbingan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan resmi KBIHU Miftahul Ulum dalam mempersiapkan jamaah secara menyeluruh agar dapat menjalankan ibadah haji dengan benar, khusyuk, dan insyaAllah meraih kemabruran.

